Minggu, 26 Februari 2012

Si Gombar ,,,, Aku kangen

GARUT KOTA KENANGAN.

Garut kota yang  saya kenal dan pertama kali saya kunjungi tahun 1980 tampaknya masih menyimpan kenangan indah sampai saat ini. Kota Garut yang dahulu kala disinggahi kereta api uap trayek Cikajang ke Cibatu pulang pergi ternyata mempunyai kerajinan kulit berskala UKM terbesar di Indonesia. Beragam produk kerajinan kulit bisa ditemui mulai dari jaket, dompet, sepatu, sandal hingga aksesori seperti tas wanita, topi dan sabuk.
Kunjungan ke Garut kali ini hanya mampir dalam perjalanan dari Tasikmalaya untuk melihat usaha kerajinan kulit . Wilayah Sukaregang  Garut tempat usaha penyamakan dan kerajinan kuli berada, memang sudah terkenal namanya hingga mancanegara. Industri penyamakan kulit pun telah mendapatkan pasar lokal yang ditandai kehadiran wisatawan domestik. Mereka datang dan berbelanja untuk mendapatkan harga murah di tempat kerajinan dibuat. Seandainya mereka datang berbelanja ke toko di sepanjang jalan Sukaregang tentunya harga sedikit mahal mengingat harga sudah jatuh ke pedagang toko.
Menikmati pemandangan sebuah kota, menjelajahi sudut-sudut pasar tradisional dan menyaksikan upacara perkawinan adat Sunda tempo dulu di Cikajang Garut rasanya terulang kembali ingatan itu saat kaki melangkah masuk ke Hotel Herlina. Di sinilah dulu kami bermalam saat melakukan liputan pembuatan film ceritera akhir pekan televisi. Selama 3 minggu hari kerja kami  bolak balik ke lokasi shooting di Cikajang Garut.

Lokomotip uap dibuat tahun 1924, difoto di station Cibatu Garut sekitar tahun 1980an oleh turis Belanda. Locomotive uap CC 5012 Mallet saat itu melayani Cibatu - Garut yang merupakan daerah pegunungan.

Kereta api uap trayek Cibatu-Garut-Cikajang sedang melintas saat hendak masuk stasiun Cikajang Garut.

Di samping industri kerajinan kulit , Garut juga mempunyai industri batik yang disebut Batik Garutan. Ciri khas batik ini terlihat antara lain bentuk geometrik mengarah diagonal, mengambil pola bentuk flora dan fauna. Warna cerah seperti krem, merah, hijau dan kuning mendominasi lembaran kain batik yang sudah jadi. Ini menandakan ritme pola batik Garut berbeda dengan pola batik pedalaman seperti Banyumas atau Solo. Sudah menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta Batik apabila pembeli yang datang ke sentra batik atau kerajinan kulit harus pandai menawar dan lebih menguntungkan jika Anda bisa berbahasa Sunda untuk mendapatkan harga miring alias murah.
Selain industri batik dan penyamakan kulit, Garut pun mempunyai kerajinan tangan yang bisa dijadikan oleh-oleh. Kerajinan akar wangi dan sutra alam  menyebut suvenir khas Garut lain  di samping suvenir kerajinan kulit tadi. Kerajinan akar wangi dan sutra alam  sudah dikenal sejak masa kolonial Belanda dan terus bertahan hingga sekarang ini.
Datang ke kota Garut rasanya belum pas kalau tidak mencicipi kuliner khas kota ini yaitu Dodol Garut. Memang berkunjung ke suatu tempat tanpa membawa buah tangan, rasanya kurang lengkap. Garut punya simbol makanan khas berhubungan dengan nama kota itu. Salah satunya Dodol Garut itu sendiri yang sudah terkenal hingga sekarang ini.
Saat kendaraan yang sehat dengan reiki dan kerabat kerja tumpangi lewat depan Pengadilan Negeri Garut menuju Mesjid Besar Garut di siang hari Rabu yang mendung awal tahun ini, pikiran kembali melayang ke ruang sidang pengadilan di tahun 1980.  Saat itu suasana pengadilan riuh sekali dengan pengunjung yang melihat jalannya sidang. Mereka ingin melihat  sidang pembunuhan yang melibatkan wanita ayu di jamannya saat membunuh majikannya karena hendak diperkosa.
Adegan shooting persidangan ini menjadi salah satu bagian ceritera akhir pekan televisi berjudul Pembelaan Garut yang dibintangi oleh Almarhum Didu, dikenal dalam serial televisi Keluarga Marlia Hardi. Sedangkan peran Pembela dimainkan Sultan Saladin, Dadi Jaya berperan sebagai Hakim dan Ani Kusuma memerankan polisi wanita. Peran terdakwa dimainkan oleh artis serba bisa Yatti Surahman yang pernah memerankan Sum Kuning dalam film layar lebar bioskop besutan tahun 1979.
Ceritera akhir pekan televisi dengan judul Pembelaan Garut lah yang menghadirkan memori kembali tentang Garut dengan Dodol Garutnya itu. Bagaimana pun Garut tetap menjadi kota kenangan. Sekalipun kereta api uap yang di tahun 1980 masih beroperasi kini tinggal kenangan. Semua sudah berubah seiring dengan jalannya pembangunan kota Garut. Kereta api uap sudah dimuseumkan digantikan dengan kendaraan bermotor roda empat dan dua. Yang tidak berubah adalah puncak Gunung Ciremai masih terlihat jelas dari kota Garut.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar