Minggu, 26 Februari 2012

Legenda ”Si Gombar” KA Cibatu - Garut Riwayatmu kini ,,,,


Saat KA Bersahabat dengan Garut
DOK. "PR"/"PRLM"
DOK. "PR"/"PRLM"
KESABARAN para calon penumpang kereta api di depan Halte Cinunuk, Kecamatan Wanaraja (1978), menunggu KA jurusan Cibatu-Garut. Kini, bangunan halte peninggalan sejarah KA itu nyaris sirna tanpa sisa.*
BENAR, tiada kesetiaan seteguh semburat mentari setiap hari. Terbukti, meskipun peluit petugas DKA (Djawatan Kereta Api) sekian lama tak terdengar lagi, tetapi sang surya pagi masih abadi menyapa wajah areal stasiun KA Garut. Isyarat kedatangan kereta api dari jurusan Cibatu dan Cikajang itu, kini menjadi milik sejarah. Tak seorang pun menduga, jika riwayat perkeretaapian di Garut tinggal cerita. Lebur terkubur putaran roda zaman.
Layanan jasa KA di Garut yang menggelar lakon panjang sejak zaman Belanda, mengunci riwayatnya pada pertengahan tahun 1984. Akan tetapi, itu tak mengeringkan kenangan. Masih terngiang saat bunyi peluit menerpa hilir-mudik manusia di stasiun. Semua orang menoleh ke arah timur. Kepulan asap hitam lok KA, melatari sasak gantung yang menggantung di atas rel lintasan kereta api di Jln. Ciwalen. Sebatas kasatmata masih bebas pandang.
Di sepanjang rel itu, belum ada permukiman yang tak beraturan. Manakala kereta harus menanti sinyal dibuka, gumpalan asap hitam dari cerobong lok makin membubung. Lalu terdengar lengking nyaring hatong uapnya sebagai klakson dari lokomotif bergelar ”Si Kuik” dan ”Si Gombar” itu. Dari arah timur itu, KA Cibatu-Garut menyeruak. Kereta lain jurusan Cikajang, muncul dari arah barat stasiun. Lengkingan hatong KA bersahutan, seolah bertegur sapa.
Gemuruh mesin lok kereta mengusik penduduk di perdesaan hingga pusat perkotaan Garut. Tak lain, karena lokasi stasiun terhampar di jantung perkotaan. Dari arah Pengkolan (Jln. A.Yani) stasiun berada di ujung Jln. Kenari (Veteran) menikung ke Jln. Bank. Di seberang stasiun, markas Kodim 0611 berhadapan dengan Kantor CPM. Di depan stasiun, ada pom bensin yang hanya disekat Jln. Kamuning. Jalan kecil sarat bisnis para pedagang beras dan kelontongan.
Dalam kondisi Garut masa silam, penempatan stasiun KA seperti itu dinilai amat strategis. Stasiun tidak didekatkan ke terminal bis, dan pangkalan opelet, yang memanjang di depan reruntuhan ”Villadolce” mulai dari batas pintu KA Jln. Melati (Pramuka) hingga tikungan Jln. Guntur. Semua fasilitas umum, terkonsentrasi ke arah stasiun. Itu menguntungkan warung soto Mang Juhro di Jln. Kamuning, yang bersebelahan dengan tempat gunting rambut.
Warung kecil itu berbatas tumbuhan panjang, pemagar permukiman para pejabat DKA ke arah stasiun. Warung soto itu pula menjadi pilihan konsumen karena kemasyhuran soto Mang Ahri, yang menetap di gang sebelah Toko Daging ”Hardjo” Jln. Mandalagiri. Kedua warung soto legendaris Garut pun, tak tersisih gengsi Warung Nasi ”Endjon” di Pengkolan, yang kini berganti RM ”Wan Sa Min-A”. Stasiun KA menjadi titik sentral dari keramaian kota.
Bongkar-muat beras, gula pasir, minyak goreng, dan minyak tanah, hingga banjir jeruk Garut dan kesemek Cikajang, menjadi pemandangan rutin di depan stasiun. Itu menguatkan bursa ekonomi rakyat di ”Pasar Garoet” (kini pertokoan ”Garut Plaza”), yang tak jauh dari stasiun. Oleh karena itu, hatong lokomotif KA terdengar nyaring, menyibak hiruk-pikuk aktivitas warga kota Garut. Adakalanya lengkingan hatong lok bagai ”kereta malam”, saat kereta api telat datang dan kemalaman. Terkadang, bunyinya mirip tangis memilukan. (Dok. Pariwisata, "PR"; 16/4/11)***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar